Covid 19
Apa Itu COVID-19
Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 adalah penyakit baru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan radang paru. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Gejala klinis yang muncul beragam, mulai dari seperti gejala flu biasa (batuk, pilek, nyeri tenggorok, nyeri otot, nyeri kepala) sampai yang berkomplikasi berat (pneumonia atau sepsis).
Bagaimana COVID-19 Menular?
COVID-19 ada penyakit baru dan para peneliti masih mempelajari bagaimana cara penularannya. Dari berbagai penelitian, metode penyebaran utama penyakit ini diduga adalah melalui droplet saluran pernapasan dan kontak dekat dengan penderita. Droplet merupakan partikel kecil dari mulut penderita yang dapat mengandung virus penyakit, yang dihasilkan pada saat batuk, bersin, atau berbicara. Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu (biasanya 1 meter).
Droplet bisa menempel di pakaian atau benda di sekitar penderita pada saat batuk atau bersin. Namun, partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, orang yang sedang sakit, diwajibkan untuk menggunakan masker untuk mencegah penyebaran droplet. Untuk penularan melalui makanan, sampai saat ini belum ada bukti ilmiahnya.
Pandemi Covid-19 Berdampak Pada Sektor Pendidikan
Pandemi Covid-19 yang terjadi telah memberikan dampak dari segala aspek yang ada. Tidak terkecuali aspek pendidikan. Salah satu dampak tersebut adalah terjadinya pergeseran nilai karakter anak didik yang disebabkan sistem pembelajaran yang dilakukan saat pandemi yang berkepanjangan, yaitu dengan sistem online. Karena pengelolaan kelas tidak bisa maksimal dilakukan oleh pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang, Azis Amin Mujahidin, Senin (18/4).
"Memang betul salah satu dampak dari sistem daring berkepanjangan akibat pandemi adalah timbulnya potensi menurunnya nilai karakter siswa. Sehingga hal itu menuntut desain pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan," kata Azis.
Kondisi tersebut menurut Azis harus menjadi perhatian bersama untuk memperkuat penerapan nilai karakter pada diri siswa. Baik dari sistem pembelajaran, orang tua, dan lingkungan sekitar.
"Kalau dalam sistem pendidikan, semakin tinggi tingkat satuan pendidikan, porsi materi nilai karakter semakin sedikit. Itu idealnya seperti itu," lanjutnya.
Dirinya menyampaikan materi terkait nilai karakter di tingkat PAUD tentunya akan lebih tinggi daripada SD. Sementara materi nilai karakter di tingkat SD tentunya juga akan lebih tinggi daripada SMP.
"Namun jika memang penurunan nilai karakter itu terjadi di semua tingkat satuan pendidikan, tentu terkait porsi materi nilai karakter akan kita maksimalkan, diiringi dengan monitoring, evaluasi," imbuhnya.
Di era saat ini, disampaikan Azis, satuan pendidikan tidak hanya menyampaikan terkait ilmu pengetahuan, namun juga pendidikan nilai karakter. Bahkan nilai karakter tersebut menjadi sebuah domain prioritas untuk siswa didik.
"Media pembelajaran itu sekarang sudah canggih, namun perlu diimbangi dengan penerapan nilai karakter. Itu sangat penting," imbuhnya.
Azis berharap, dampak pandemi tidak menurunkan nilai karakter pada siswa didik. Justru dapat meningkatkan nilai karakter dengan belajar peduli, menghormati, bergotong royong, dan menghargai antar sesama.
"Penerapan perilaku adaptasi baru dengan prokes dan pola hidup bersih-sehat menjadi kunci keberhasilan pembelajaran. Sehingga tetap tercipta peserta didik yang taqwa, cerdas, cakap, berbudaya, dan berkarakter," imbuhnya.